09 Juni 2009

… FAIR A DICE…



Kini panggung Musik Bali dimeriahkan dengan kehadiran kembali sebuah Band indie yang saya rasa sangat unik.. Keunikan karena keberanian mereka memadupadankan beberapa genre musik ke dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan..

Sebelum saya bercerita panjang lebar tentang sekumpulan anak muda ini, ada sedikit kisah di balik ‘reborn’nya band membanggakan ini..

Band yang pada awal pemunculannya berkibar dengan nama ‘PAIR A DICE’ ini terbentuk pada tahun 2005.. Sebuah band yang lahir dengan genre skemocore (Ska Emo Hardcore) ini berhasil merilis sebuah album bertajuk Heaven and Hell on Earth dengan 14 single andalannya.

Beberapa single andalan mereka sempat menjadi juara selama beberapa minggu di INDIE chart radio-radio di Bali. Dengan senjata pamungkas mereka, mampu menaklukan dunia INDIE di Bali..Gak percaya kalau lagu-lagu mereka terdahulu cukup membius banyak jiwa (hehe)..

Silahkan dengarkan dan nikmati setiap dentingan nada dari ’senjata’ mereka di

www.purevolume.com/pairadice

Band unik yang saat itu di gawangi Gung Alit Bollo (Bass & Back Voc), Keker (Guitar & Voc), Rodi (Drum), Rambo (Guitar & Back Voc), memproklamasikan album mereka pada Januari 2008.. Kesuksesan dengan peluncuran album pertama mereka tidak dibarengi dengan keutuhan personel di dalamnya. Kesibukan berkarir menjadi salah satu alasan utama para awaknya untuk menanggalkan sejenak rutinitas bermusik mereka..

Cukup sampai disini???

Tentu saja tidak… Suatu kebanggaan seorang seniman adalah tidak ada kata mati atau menyerah pada kreativitas.. Dengan kegigihan semangat 2 personel terakhir (Gung Alit & Rodi), naluri bermusik itupun tumbuh lagi.. Merubah dan menambah personel adalah ide brilliant mereka.. Tepat Oktober 2008 satu formasi baru dari band yang sempat berjaya dengan album perdananya muncul kembali ke permukaan, mereka lahir kembali dengan nama FAIR A DICE, dengan diperkuat beberapa jagoan musisi didalamnya. Hadirlah

Ayenx – Vocal

Rodi – Drum

Gung alit Bollo – Bass, Back Voc

Gerry – Guitar

Turah – Saxophone

Jay – Troumpet

Tanpa merubah genre musik Punk Rawk yang menjadi ciri khas mereka, hanya saja untuk formasi baru ini mereka mengulik beberapa genre seperti Bossas, Swing, Country, Reggae, Dixie yang blending dengan keharmoniannya..

Tidak ada sasaran khusus penikmat musik bagi mereka, siapapun berhak menikmati lagu-lagu mereka yang telah mereka kemas sedemikian rupa dalam setiap aksi panggungnya..

Beberapa kali menggoncangkan panggung di berbagai acara musik, telah membuktikan kepiawaian mereka sebagai band yang layak untuk diperhitungkan ke’exist’annya. why ?? Dari segi lagu JELAS terdengar sangat menghibur, bahkan menjual.. dari segi wardrobe KEREN, dengan sangat yakin dipastikan mata gak akan sepet ng’lihat mereka.. Audiencenya pun jejingkrakan untuk kaum adam, bagaimana untuk kaum hawa?? Histeris, itu satu kata yang cukup mewakili saya rasa.. Hahaha..

Cukup membuktikan bukan??

Keseriusan mereka untuk menjadi musisi akan segera dibuktikan karena saat ini mereka sedang getol-getolnya membedah otak kreativnya untuk menelurkan hasil karya yang bisa mereka persembahkan secara special kepada penikmat musik indie khususnya dan blantika musik dunia pada umumnya.. Dengan perpaduan lirik bahasa Indonesia dan inggris di dalamnya, membuat mereka membuka pintu gerbang musik dunia bukan?!

Saya atas nama pribadi sebagai seorang penikmat musik, sebagai seorang rekan professional, sebagai seorang teman/sahabat, saya support dalam segala hal.. Semoga materi lagu-lagu untuk album segera terkumpul. Tetap solid ya guys.. Luph y’all..

GOB BLESS YOU..

Keep Rawkin’ the FAIR’A’DICE dude.. !!!

04 Juni 2009

Tur ke Amerika, Superman Is Dead Akan Pakai Baju Adat Bali


Band beraliran punk rock asal Bali, Superman Is Dead, berniat menggunakan pakaian adat Bali saat tampil di Amerika Serikat 12 Juni- 9 Juli mendatang.

"Kita akan bawa bendera Indonesia (di panggung). Mungkin pakai baju daerah Bali," ujar penggebuk drum Superman Is Dead, Gede Ari Astina alias Jerinx atau JRX, 32 tahun, kepada wartawan, Selasa (19/5) sore.

Superman Is Dead rencananya menggelar tur "From Bali with Rock 2009" yang akan dilanjutkan penampilan mereka pada ajang Warped Tour 2009 di Amerika Serikat.

Superman Is Dead digawangi Jerinx (drum), Eka Rock, 34 tahun (bas), dan Bobby Kool, 32 tahun (vokal/gitar). Mereka baru saja menelurkan album ketujuh mereka bertajuk "Angels and The Outsiders" dengan single "Kuat Kita Bersinar" dan "Jika Kami Bersama". Mereka akan menyambangi Amerika Serikat selama 35 hari dan tampil 17 kali masing-masing enam di konser From Bali with Rock 2009 dan 11 di Warped Tour.

Warped Tour merupakan festival musik dan olahraga ekstrem di Amerika Serikat. Festival yang telah berlangsung sejak 1995 sempat menjadi wadah bagi band-band punk Amerika Serikat yang kini berkibar seperti Green Day, NOFX, dan Bad Religion.

"Kita pingin kasih tahu bahwa Indonesia bukan negara yang mundur," kata Jerinx. Jerinx berharap waktu sekitar 25 menit yang diberikan ke Superman Is Dead di setiap penampilan di Warped Tour bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Superman Is Dead merupakan band pertama dari Indonesia dan kedua di Asia yang bisa tampil di Warped Tour. Karena itu, salah satu anggota The Outsiders (panggilan penggemar Superman Is Dead), Eka Budi Kurniawan, 21 tahun, berharap Jerinx dan kawan-kawan bisa mengharumkan nama Indonesia di Amerika.

Selain itu, saat tur From Bali With Rock 2009, penampilan Jerinx dan kawan-kawan akan dibuka dengan permainan gamelan yang dilakukan perkumpulan warga Amerika Serikat. "Saya ingin berkolaborasi dengan mereka," ujar Bobby.

Meski harus tur ke Amerika Serikat, para personel Superman Is Dead juga akan tetap mengikuti Pemilihan Presiden 8 Juli mendatang. Pasalnya, para personel Superman Is Dead tidak mau melewatkan haknya sebagai warga negara saat membawa nama Indonesia di Amerika.

"Itu sudah kita pikirin. Entar di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), di sana kan kita bisa milih," ujar Jerinx.

Korban Arak Metanol Terus Bertambah Di Bali

Denpasar, 29 Mei 2009 16:02
Jumlah korban akibat mengonsumsi arak dicampur metanol dan etanol di Bali, terus bertambah. Selain warga Denpasar dan Tabanan, juga Gianyar dan Bangli.

Bahkan di Bangli, dari 12 korban yang datang berobat ke RSUD setempat, seorang di antaranya yakni warga dari Desa Songan, Kitamani, tercatat menghembuskan napas yang terakhir begitu dirujuk ke RSUP Sanglah, Denpasar.

Bersamaan dengan itu, seorang pasien dari Gianyar juga diketahui menemui ajal saat menjalani peratawan di rumah sakit.

Petugas pada RSUP Sanglah mengatakan, dengan tewasnya seorang warga dari Bangli, maka angka korban meninggal dunia akibat minum arak metanol telah mencapai 19 orang.

Dikatakan, sejak kasus arak metanol merebak akhir pekan lalu, RSUP Sanglah terus-menerus kedatangan pasien dalam jumlah yang cukup banyak.

Bersamaan dengan itu, pasien yang masih dalam perawatan itupun secara bergiliran jatuh "berguguran".

Direktur Narkoba Polda Bali Kombes Pol Kokot Indarto mengakui dari hasil penyelidikan, terhitung telah 18 orang tewas setelah mereka meneguk minuman oplosan yang sering disebut arak metanol.

Sejumlah korban keracunan arak metanol diketahui mulai datang ke Sanglah sejak Sabtu (23/5) tengah malam, kemudian sehari berikutnya belasan korban serupa menyusul memerlukan peratawan.

Dari puluhan korban yang datang berobat, termasuk yang dirujuk dari RSUD Tabanan, dua di antaranya meninggal dunia pada hari Senin (25/5) lalu.

Sehari berikutnya, Selasa (26/5), menyusul empat orang tewas, dan sejak Rabu (27/5) hingga Kamis dinihari terhitung tujuh korban mengikuti rekannya ke alam baka.

Selama Kamis (28/5) hingga Jumat siang, enam korban menyusul tewas, sehingga total menjadi 19 orang.

Menurut petugas medis RSUP Sanglah, jumlah korban tewas bisa terus bertambah mengingat sejumlah pasien kini masih dalam kondisi cukup kritis dalam peratawan di rumah sakit terbesar di Pulau Dewata itu.

Dari hasil tes pada Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Cabang Denpasar, terungkap bahwa minuman yang telah merenggut belasan nyawa itu adalah cairan oplosan yang terdiri atas unsur arak dicampur bahan mengandung metanol dan etanol.

"Adanya dua unsur cairan kimia yang telah dicampurkan dengan arak tradisional Bali itu, akhirnya terungkap telah mengakibatkan belasan peninumnya tewas," kata Kepala Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Cabang Denpasar, Kombes Pol Muhibin.

Dikatakan, dari hasil tes lewat Labfor, diketahui bahwa arak yang diminum belasan korban itu positif berkadar metanol dan etanol yang cukup tinggi.

"Memang bedebah tu orang yang bikin....ga ada kerjaan lain pa..."

03 Juni 2009

PUNK & HARDCORE BAND

"RIGHT 88"


Band punk and hardcore berasal dari bandung since 1998 ini memang harus kita pikirkan di kanca musik di indonesia....
Kalian pasti ga tau..kalo mreka perform kayak apa....aku belum liat juga sih...tapi nanti kalo mreka ke bali,kita liat nie aksi mreka kayak apa...katanya sih mreka lumayan abis-abisan...kalo dipanggung....mreka udah LIVE dimana-mana loe...gua juga masih penasaran ma nie band...
gila logonya aja serem kayak gitu..apalagi orangnya ya...
Tapi tenang mreka sangar bukan brarti aslinya sangar kok..so...kalo loe mau liat profil mreka kayak apa ,kalian bisa kunjungin nie situs :

- http://www.myspace.com/right88officialkiller

ato

- http://www.facebook.com/group.php?sid=c4b791554962edc05a38a4608a4e109c& gid=57852908869&ref=search

kalian liat sendiri deh mreka kayak apa.....so,ini bukan promosi ato sejenisnya..ini hanya informasi buat kalian yang seneng sama musik indie label....
jadi blog ini dibuat hanya memberitakan..bukan promosi...
kalo sebagian menganggap ini promosi,silahkan....
tapi intinya disini mrboncel hanya memberikan temen2 apa yang saya tau......

maju trus perindustrian musik indonesia....!!!!!!

Anak Muda Menguji Mental di ''Skateboard''Bersama anak" skater puputan


BANYAK olah raga menantang nyali kini digandrungi anak muda. Salah satunya, olah raga atau permainan papan luncur atau skateboard. Skateboard termasuk olah raga atau permainan ekstrem di dunia, yang pertama kali ditemukan pada 1950, seiring dengan berkembangnya era surfing di daerah California, Amerika Serikat. Bagaimana dengan di Bali? Ternyata, di Bali umumnya dan di Denpasar khususnya, jenis olah raga ini sudah cukup lama diakrabi anak muda.

Skateboard merupakan sebidang papan melengkung di bagian ujung depan dan belakang, serta mempunyai penghubung di antara tayar atau truck-nya. Tidak hanya di Barat, bermain skateboard malah sudah relatif lama menjadi trend dalam lingkup komunitas dan pergaulan anak muda di Bali.

Sebutlah umpamanya perihal keberadaan organisasi Persatuan Skateboard Bali (PSB) yang dulunya bernama Bali Skater.

Organisasi dengan nama baru ini, tentu saja menaruh interest maksimal terhadap perkembangan olah raga skateboard di Bali. Berbagai event sudah kerap digelar untuk membangkitkan komunitas skateboard di Bali.

Hal ini diakui Gus Pras, wakil dari PSB. Ia mengatakan, saat ini perkembangan skater atau peminat olah raga skateboard khususnya yang ada di Bali sudah berkembang pesat. Menurutnya, perkembangan ini sangat baik mengingat olah raga ini memberi kontribusi pergaulan dan aktivitas sangat positif bagi kaum muda. "Kami hanya ingin generasi muda Bali memanfatkan semangat dan adrenalin mereka ke dalam olah raga yang positif dan menantang ini. Sekaligus, agar mereka juga mendapat penghasilan dari trend skateboard itu sendiri," ujar Gus Pras


Tergolong Baru

Dikatakan Gus Pras, di Indonesia perkembangan skateboard masih tergolong baru, sejak 1980-an. Peminatnya makin banyak seiring perjalanan waktu meskipun pada saat itu tidak pernah diadakan kejuaraan skateboard di Indonesia. Para skater, menurut Gus Pras, mendapatkan informasi dari video dan atau membaca majalah luar negeri.

Di Bali, papar Gus Pras, booming skateboard terjadi sekitar tahun 1999. Kendati kala itu kegiatan terkesan masih "datar-datar" saja dan belum ada arahan yang benar bagaimana bermain skateboard, hal ini tidak membuat perkembangan skateboard di Bali lesu. Hal itu justru makin menambah rasa penasaran anak muda untuk menaklukkan papan beroda tersebut. "Awalnya memang terasa sulit meluncur di atas skateboard. Namun, jika orang mau tekun dan pantang menyerah, tidak terlalu sulit menguasainya," jelas Gus Pras.

Sebagaimana dikatakan Gus Pras, kini telah banyak tumbuh komunitas skater. Tidak hanya di daerah Kuta dan Denpasar, juga telah merambah ke daerah lain seperti di Ubud, Kota Gianyar, hingga Tabanan. Khusus di daerah Kuta dan Denpasar komunitas itu memiliki nama tersendiri sebagai identitas mereka seperti Imbo Skate (Imam Bonjol Skate), Puputan Skate, Flate Skateborder Community, Simpang Siur Skate, dan Tuban Skateboard.

Selain organisasi PSB yang berada di bawah penasihat Dirjen Pariwisata Bali, Gus Pras mengatakan, Bali juga memiliki company sendiri yang bernama BASE yang berfungsi menangani, memantau dan mengarahkan para skater di Bali agar tetap berada pada jalur yang benar. Bagi Gus Pras, pemain atau peminat skateboard akan mendapatkan "keuntungan psikologis" dari kegiatan ber-skateboard-nya seperti melatih mental, membentuk kepribadian yang baik, pantang menyerah untuk terus mencoba.

Keuntungan itu tidak hanya dapat diterapkan dalam permainan skateboard, juga pada kehidupan sehari-hari. "Saya yakin, para skater akan mempunyai mental dan kepribadian yang kuat untuk terus mencoba sesuatu yang baru dalam artian positif dan tidak mudah menyerah dalam hidup," tegas Gus Pras yang telah bergelut dengan skateboard sejak 1998 ini.

Kendati demikian, keberadaan fasilitas para skater untuk mengapresiasikan trik-trik mereka, diakui Gus Pras, masih sangat terbatas. Dicontohkan, betapa kini masih minimnya tempat-tempat yang menyediakan prasarana untuk para skater latihan. Bahkan ironisnya, para skater lebih banyak bermain di trotoar jalan dan pada tempat yang jauh dari standar.

"Di sinilah kami meminta dukungan pemerintah dan sponsor untuk membantu menyediakan sarana main skateboard. Percayalah, olah raga ini berfungsi menjauhkan generasi muda dari hal-hal yang negatif dan menyimpang," harapnya.

Dijelaskan Gus Pras, harga papan luncur beroda ini memang tergolong mahal, bisa mencapai jutaan rupiah, tergantung bahan dan kualitasnya. Menurut Gus Pras, bagian tengah atau truck dari papan skate ini terbuat dari titanium, aluminium dan campuran besi (aloi) yang ringan. Truck sendiri berbentuk kakangan atau huruf "H" apabila diletakkan pada posisi miring. Bagian-bagian skateboard meliputi washer atas, washer bawah, axle nut, bushing, bearing, axle washer, king pin, dan king nut. Wheels (tayar) merupakan bagian dari elemen terakhir yang memainkan peranan penting dalam pergerakan skateboard.

Rentan Risiko

Banyak anak muda memang sudah kegandrungan skateboard. Salah satunya, sebutlah Surya, skater yang sempat ditemui Bali Post di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, saat asyik bermain skateboard. Surya mengakui, bermain skateboard memiliki kesenangan tersendiri baginya.

Diakui Surya, kendati olah raga ini rentan dengan risiko seperti cedera, terkilir, patah tulang sampai gegar otak, tetap saja terbesit keinginannya untuk menguasai trik-trik dalam permainan tersebut. "Memang melakukan kesalahan merupakan risiko yang fatal. Itu bisa saja terjadi. Tapi saya tetap fun-fun saja menikmati skateboard ini. Malah, terkadang sebelum menguasai satu trik, ada rasa tidak ingin menghentikan latihan tersebut," ungkapnya.

Dikatakan Surya, untuk menikmati permainan skateboard yang indah dan penuh gaya memang diperlukan sarana yang berkualitas. Namun, menurut Surya, hal itu kembali kepada daya beli skater itu sendiri. Harga papan luncur yang dimiliki Surya sekitar Rp 375 ribu, itu dipesannya lewat internet buatan Bandung. "Bagi skater pemula seperti saya, cukup dulu papan luncur buatan Bandung. Selain murah, mudah juga mendapatkannya," komentarnya.

Senada dengan Gus Pras, Surya juga menjelaskan, bermain skateboard membutuhkan keterampilan, keberanian, feeling, dan teknik tinggi. Di samping itu, ada lima dasar yang perlu dimiliki pemain skateboard yaitu kecepatan, teknik, berdiri, melompat di atas papan, dan kemampuan memutar papan. "Jika dasar-dasar ini sudah dikuasai, rasanya bermain di atas papan luncur bukan masalah lagi. Bahkan, dalam menciptakan trik-trik baru sekalipun," papar Surya.











Dan sekarang mereka akan berkonsentrasi dalam pembuatan film independent.semoga tidak ada halangan apapun...semangat teman2!!!!!

Tips & Trick Membuat Studio Rekaman Sederhana

(Menggunakan 2 Soundcard)

Membuat studio rekaman tidak harus menggunakan teknologi rekaman yang mahal. Ada tip trik membuat studio rekaman sederhana dengan kualitas rekaman tidak kalah dengan studio rekaman berteknologi canggih.

Kami akan berbagi pengalaman buat Anda yang menginginkan membangun sebuah studio rekaman yang sederhana dengan biaya relatif lebih murah namun menghasilkan kualitas rekaman yang sama dengan studio rekaman dengan teknologi yang canggih saat ini.

Peralatan yang dibutuhkan untuk membangun studio rekaman antara lain :

  • 1 Unit Komputer dengan spesifikasi :
    - Pentium III atau IV atau Sekelasnya
    - Memory Minimal 256 MB
    - Harddisk 40 GB 7200 RPM
    - CDRW (buat nanti kalo mo copy master lagu atau MP3 ke CD)
    - Software Digital Multitrack (Cool Edit Pro 2.0, Cakewalk, atau lainnya)
  • 2 (dua) buah sound card full duplex
    Sound card ini berfungsi pengganti converter (MOTU,AARK,EW88MT) yang harganya begitu mahal. Kita menggunakan 2 sound card dengan maksud nantinya kita dapat bekerja lebih efisien, karena dengan adanya 2 sound card kita dapat langsung merekam "teak" 2 instrumen dalam waktu bersamaan pada track yang berbeda di software digital multitracks (cool edit pro)
  • 1 Unit Mixer
    Mixer yang kami gunakan adalah mixer digital buatan Behringer dengan seri UB1832FX-PRO, dimana mixer behringer ini mempunyai banyak fasilitas yang dapat Anda simak disini . Fasilitas mixer Behringer UB1832FX-PRO adalah Ultra low noise, mic pre-amp, 24-bit digital stereo FX processor with 99 presets including reverb, delay, chorus, compressor, tube distortion, vinylizer and more plus 1 kHz test tone, Breathtaking 3D stereo surround effect for more vitality and enhanced stereo image, Effective, extremely musical 3-band EQ with semi-parametric mid band plus switchable low-cut filter on, 6 new state-of-the-art, studio-grade IMP "Invisible", dan lain-lain.
  • Mic Drums
    Kami memilih mic drum merk YOGA karena dari segi harga relatif murah dibandingkan yang lainnya, dengan kualitas tidak kalah dengan merk lainnya. Kalo mo pengiritan lagi pake condensor mic dan dapat dibeli di toko-toko electronic terdekat, tapi untuk kualitasnya kurang baik dan dapat di perbaiki nantinya di software digital multi track atau di software soundforge.
  • Tape
    Berfungsi sebagai monitor sound engineer dan guide player. Kami menggunakan tape HIFI SONY type FH-515R. Memang menurut teori recording harus menggunakan monitor flat yang harganya 1 pasang sampai 6 juta lebih, tapi lupakan dulu yang ini karena pembahasan disini dibatasi yang sederhana nan murah,.....hehehehe.
  • Kabel dan jack
    Pemilihan kabel usahakan yang baik, karena kualitas rekaman sangat ditentukan disini. Anda dapat membeli kabel atau jack di toko-toko musik atau electronik di kota Anda.
  • Headphone
    Digunakan untuk player di studio khususnya yang sedang rekaman atau buat sound engineernya.
  • Lain-lain
    Apa lagi ya,.....kayaknya cukup ini dulu. Nanti kalo ada info lagi kami masukan disini.

Setting Mixer dan alat rekaman

Untuk mempermudah pembahasan, kami mencoba untuk menuangkan dalam bentuk diagram gambar dengan peralatan yang telah kami sampaikan sebelumnya.

Diagram digital recording tracks

Keuntungan system ini adalah dapat menghemat waktu rekaman, karena dapat langsung 2 player melakukan " teak" bersamaan dan nantinya setiap player akan masuk di track software yang kita pake sendiri-sendiri. Kok bisa ???. Coba mungkin perlu saya uraikan satu persatu untuk mempermudah pemahamann skema di atas.

Alat Musik

  • Mic drums (A) kita masukkan di channel 1 s/d 7 di mixer Behringer UB1832FX-PRO dan kita aktifkan tombol main di setiap channel drums dan untuk pengontrol volume kita gunakan main mix (K).
  • Untuk player gitar pada channel 8 atau 9 kita aktifkan tombol sub dan untuk pengontrol volume kita gunakan volume sub (J).

Mixer bagian Atas

  • Kita menggunakan metronome dari softaware digital multi track dan dimasukkan ke dalam input tape (F).
  • Sedangkan Headphone (G) digunakan untuk player yang berapa di studio yang sedang melakukan "teak". Selain suara drums dan gitar player juga dapat mendengarkan suara metronome.
  • Yang paling penting adalah pada tombol "Tape to Main" harus dalam posisi off, karena apabila posisi on suara metronome akan masuk ke jalur main output dan akibatnya metronome akan terekam bersamaan dengan drum.

Mixer bagian depan

  • Main output (C) dimasukkan di soundcard 2 (I) untuk track drum.
  • Sub outout (D) dimasukkan di soundcard 1 (H) untuk track gitar.
  • Control room output (E) dimasukkan di tape (misalnya di CD-in)dan berfungsi sebagai monitor sound engineer dan gitar player. Suara metronome juga dapat kita dengarkan disini.
  • Line out soundcard 1 (H) juga dimasukan di tape (misalnya : dimasukkan di phono-in)yang berfungsi nantinya untuk playback hasil rekaman yang telah selesai di rekam.

Setting di Software

  • Setting di software hanya merubah input track masing masing alat tersebut. Misalnya track 1 digunakan drums berarti input record soundcard 1 (misal : SIS 7018)
  • Sedangkan track gitar pada track 2 di software tersebut setting input record di rubah posisi soundcard 2 (misal : Creative 128)
  • Jangan lupa sebelum teak berlangsung tombol record kedua track tersebut harus aktif, dan set kecepatan metronome sesuai karakter lagu yang akan di rekam.

02 Juni 2009

SEJARAH MUSIK ROCK DI INDONESIA

Awal Mula

Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gank Pegangsaan, Gipsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah. Namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.

Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (GN’R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi `sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga mantan vokalis Rotor.

Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Diluar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di “infiltrasi” oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).

Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses “membakar” Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90-an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The 8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker’. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.

Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal daninternasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.

Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul `It’s A Proud To Vomit Him’. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).

Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska. Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dan sebagainya.

29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya scene Brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana (Subnormal Revolution) yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café diluar dugaan malah banyak melahirkan venue- venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yangterletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.

Scene Punk/Hardcore/Brit/ Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering meng-cover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawknya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses. Konon, peristiwa historik ini kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel `…Jang Doeloe’. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah band Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V, Parklife hingga Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama, ibukota ini di tahun 1989 sempat melahirkan band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel `Finally’ baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung meng-cover lagu-lagu The Exploited. Nggak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel `Living Comfort In Anarchy’ via label indie Movement Records. Komunitas-komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90-an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.

Scene Bandung

Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya. Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan.” Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.

Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta. Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yang self-titled. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh Majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.

Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana, komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burger Kill dan sebagainya. Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul “Golok Berbicara”. Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.

Kemudian taklama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya. Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.

Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di `baptis’ di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini. Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar.tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!

Scene Jogjakarta

Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota ini ternyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat di Indonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metal underground Jogjakarta salah satunya adalah Jogja Corpsegrinder. Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal Human Waste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana, Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluh kali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, Ruction.

Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997 tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop sampai The Monophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir di Indonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kota ini. Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedang asyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg ini tercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yang diselenggarakan tanggal 6 Juli 2001 silam di antaranya menampilkan Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hingga Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari event Surabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI - Red) dimana band- band underground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushido manggung di sebuah acara musik di event tersebut.

Setelah event itu masing-masing band tersebut kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dari organisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu serta sarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal ini waktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milik band Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kini RIP - Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakal terbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengaja dibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.

Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konser underground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karena kesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelah semakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal di Surabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmi dibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debut album milik Slowdeath yang bertitel “From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction” (September 96), debut album Dry berjudul “Under The Veil of Religion” (97), Brutal Torture “Carnal Abuse”, Wafat “Cemetery of Celerage” hingga debut album milik Fear Inside yang bertitel “Mindestruction”. Tahun-tahun berikutnya barulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya Underground Society (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45, saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telah banyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salah satu band death metal lama yaitu, Dry kemudian berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal di Surabaya kala itu.

Hanya bertahan kurang lebih beberapa bulan saja, S.U.S di tahun yang sama dilanda perpecahan di dalamnya. Band-band yang beraliran black metal kemudian berpisah untuk membentuk sebuah wadah baru bernama ARMY OF DARKNESS yang memiliki basis lokasi di daerah Karang Rejo. Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Selanjutnya di bulan September 1997 digelar event AMUK II di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. 25 band death metal dan black metal tampil sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang. Arwah, band black metal asal Bekasi juga turut tampil di even tersebut sebagai band undangan.

Scene ekstrem metal di Surabaya pada masa itu lebih banyak didominasi oleh band-band black metal dibandingkan band death metal/grindcore. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti ARMY OF DARKNESS I dan II.

Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground INFERNO 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo,Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (Ruko) ini tercatat ada beberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh INFERNO 178 antara lain adalah, STOP THE MADNESS, TEGANGAN TINGGI I & II hingga BLUEKHUTUQ LIVE.

Band-band underground rock yang kini bernaung di bawah bendera INFERNO 178 antara lain, Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, Bluekuthuq dan sebagainya. Fanzine metal asal komunitas INFERNO 178, Surabaya bernama POST MANGLED pertama kali terbit kala itu di event TEGANGAN TINGGI I di kampus Unair dengan tampilnya band-band punk rock dan metal. Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal. Sayangnya, hal ini juga diikuti dengan mandegnya proses penggarapan POST MANGLED Zine yang tidak kunjung mengeluarkan edisinya yang terbaru hingga kini.

Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene, lahirlah kemudian GARIS KERAS Newsletter yang terbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulas berbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya di Surabaya saja tetapi lebih luas lagi. Respon positif pun menurut mereka lebih banyak datang justeru dari luar kota Surabaya itu sendiri. Entah mengapa, menurut mereka publik underground rock di Surabaya kurang apresiatif dan minim dukungannya terhadap publikasi independen macam fanzine atau newsletter tersebut. Hingga akhir hayatnya GARIS KERAS Newsletter telah menerbitkan edisinya hingga ke- 12.

Divisi indie label dari INFERNO 178 paling tidak hingga sekitar 10 rilisan album masih tetap menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Baru memasuki tahun 2000 yang lalu label INFERNO 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners yang berjudul “Ajang Kebencian”. Selanjutnya label INFERNO 178 ini akan lebih berkonsentrasi untuk merilis produk- produk berkategori non-metal. Sedangkan untuk label khusus death metal/brutal death/grindcore dibentuklah kemudian Bloody Pigs Records oleh Samir (kini gitaris TENGKORAK) dengan album kedua Slowdeath yang bertitel “Propaganda” sebagai proyek pertamanya yang dibarengi pula dengan menggelar konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower sekitar bulan September 2000 lalu yang dihadiri oleh 150- an penonton. Album ini sempat mencatat sold out walau masih dalam jumlah terbatas saja. Ludes 200 keping tanpa sisa.

Scene Malang

Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Surabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang “panas” sejak awal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community (T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock underground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetap saja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara bertajuk Parade Musik Underground tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal), Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrial death metal), No Man’s Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-band asal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).

Beberapa band Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang bertitel “Maggot Sickness” saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch. Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indie label pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetap produktif merilis album di Malang adalah Confused Records

Scene Bali

Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukan komunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalah komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Ikut eksis di dalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di Jogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia Corpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalah gitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser underground besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta). Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat.

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Indie Indonesia Era 2000-an

Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an? Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi besar bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin luas di Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan style musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga menggembirakan, minimal ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang berguna puluhan tahun ke depan.

Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom `indie’ dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non- mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasikmengenai istilah `indie atau underground’ ini di tanah air. Sebagian orang memandang istilah `underground’ semakin bias karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang `sell-out’, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping. Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom indie karena lebih `elastis’ dan misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauh meninggalkan istilah ortodoks `underground’ itu tadi.

Ditengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau indie label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai- ramai merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia. Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian established dari hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan polarisasi indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain musik sebebas mungkin sembari bersenang-senang lebih menjadi `panglima’ sekarang ini.

…And history is still in the making here…..

Endank Soekamti @ Hard Rock Cafe


Demi nama punk rock dan kroni-kroninya, Minggu malam itu semua datang untuk sedikit rock n’ roll, bir dingin dan tawa renyah. Dibuka oleh Devadata, Sillyvoice dan Blingsatan dengan kadar distorsi lebih, lalu Endang Soekamti langsung geber panggung dan gelombang riot mulai berasa, meski tak terlalu terlihat langsung di depan bibir panggung. Hits-hits menggigit seperti ‘Bau Mulut’, ‘Zzzzt’, dan lain-lain jadi penambah oktan malam itu. Tak penuh tapi cukup ciptakan peluh, dosis punk rock Jogja menambah rasa di Bali.